Jumat, 17 Januari 2014



11 november 2013
           
                  Malam begitu sunyi di kelumuti gumpalan-gumpalan kabut yang asyik dengan mainan anginnya. Kerlipan bintang yang seakan memanggil gelayutan hatiku untuk ikut berkedip dengan cerianya. Aku yang masih saja sibuk mengemas rasa yang penuh dengan kecemasan. Tentang dia disana, yang jauh dariku. Masihkah dia menjaga sebungkus rasa yang aku titipkan,  perasaan yang sampai sekarang juga aku belum mengerti apa arti yang lebih spesifik. Yang aku tau aku hanya menyukainya dan aku tidak tau apa yang akan terjadi jika aku kehilangannya, mungkin aku tak akan sanggup. Semakin buyar dengan orang-orang di sekililingku yang tak bisa mengerti. kau pernah bilang kalau hubungan kita itu terasa aneh, iya benar aneh karena aku berhubungan dengan teman dekat kakakku sewaktu SMA dulu, dengan seorang pria yang dulu pernah dekat dengan kakakku sendiri. Tapi aku tak peduli, aku menyayangimu dan itu tak butuh alasan apa-apa, sejak dulu, sejak pertama kali aku mengenalmu, sejak pertama kali kita berteman, sejak pertama kali aku bertemu denganmu, sejak aku jadi orang yang kau sayangi, hingga saat ini, dan aku harap juga cinta kita tak mengenal kata kadaluarsa, aku mau menghabiskan sisa hidupku denganmu, aku mau. kadang sedikit menyesakkan jika keraguan sedang mampir di benakku, bahkan itu semakin memuncak dengan sikapmu, dengan dukungan cambuk dari pihak-pihak lain. Di halaman pertama cerita kita terasa begitu indah, dengan janji-janji yang terkesan cerah kedepannya, dan sekali-kali perasaan itu hadir, seperti terhantam batu begitu kerasnya disini, di dalam dada. Dalam setiap perang di antara kitapun kau akan selalu menang, kau akan selalu menjadi pahlawanku, aku tak berdaya, aku pasrah di main-mainkan oleh waktu yang berjalan kedepan. Kau dengan ciri khasmu yang begitu santai dan datar, dan aku dengan gejolakku, meletup-letup, aku dengan pacuan-pacuan yang tak ada habisnya berlari, tak ada kata istirahat. Lantunan lagu kenangan kita yang mengantarkanku semakin tenggelam di pekatnya malam ini, di lekukan-lekukan memori yang terpatri di otakku, mataku yang tak ada habisnya mengeja bibirmu, hatiku yang memburu pikiranmu, dan sampai saat ini aku sadar, hidupku tlah di paku hidupmu. Bagai patung yang menempel di punggungmu, mengikutimu setiap langkah kau tuju, aku pengganggu ya ? aku merasa begitu menjadi pengganggu di hidupmu, aku tak bisa mengerem diriku sendiri, seolah ada hal lain yang mengontrol langkahku. Kau sudah seperti aliran darah dalam diriku yang setiap detiknya berdetak di urat nadi. Ya Tuhan, bisa segila inikah aku ? aku bahkan tak bisa bayangkan jika apa yang aku jaga selama ini, selama 1 tahun kita pacaran, semuanya hanya bualan layaknya dongeng masa kecil, aku sama sekali tak bisa berfikir apa yang berlaku pada diriku selanjutnya. Jangan lakukan itu ya, jangan bohongi aku. Aku pernah berfikir jika aku bermain-main dengan cinta, hanya bermain-main, bedanya dampaknya bisa lebih terasa jika kita kalah, bahkan efeknya bisa terasa sampai berhari-hari. Hanya. mengurung diri di kamar, atau pergi sejauh mungkin sendirian. Bukan seperti dulu waktu kecil, bermain sepuasnya tanpa ada tanggungan di pikiran, tanpa ada rasa cemas tentang apa yang akan terjadi besok. Hidup ini hanya soal pergeseran jarak dan waktu, beginilah caraku menyerahkan hidupku, seolah-olah hanya berputar, lahir, tumbuh, tua, dan mati, begitu saja. Kita hanya menggantikan hidup orang-orang sebelumnya. Banyak nada-nada sumbang yang aku terima saat aku memilihmu, tapi aku tak peduli, aku tau banyak orang di luar sana yang lebih darimu, sekali-kali aku juga ragu saat sikapmu membuatku tak nyaman dan perasaan itu hadir, tapi semakin lama aku berfikir, aku sadar, banyak juga di luar sana yang lebih dariku tapi kau memilihku. Seolah rasa ini sudah ku mantapkan padamu, aku tak tau apa alasannya. Aku takut, banyak sisi lain darimu yang belum aku ketahui, aku takut aku akan kecewa jika suatu saat nanti aku mengetahui semua sudut darimu. Seperti plus dan minus tertempel banyak di jidatku, seperti air dan api yang jadi satu di hatiku, seperti hitam dan putih yang ada di mataku, seperti malaikat dan setan di kedua telingaku, yang masing-masing darinya saling berteriak. Aku seperti ada di ruang gelap dan hanya mermodalkan lentera kecil, aku meraba mencari setiap langkah yang akan ku lalui, entah benar entah salah aku tak tau. Layaknya mesokis yang hanya berputar. Pernah aku mencoba untuk lari tapi tak pernah benar-benar ingin pergi. Aku stuck disini, menunngumu mencabutku dan menaruhkanku ke tempat yang lebih baik, yang kau janjikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar