TEKNIK AKLIMATISASI KULTUR JARINGAN CENDANA (Santalum album Linn.)
Cendana (Santalum album Linn.) merupakan komoditi andalan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pulau Timor, Sumba, Adonara, Solor, Lomblen, dan Sawu) sejak beberapa abad yang lalu karena memiliki kualitas keharuman kayu dan kandungan minyak yang khas. Namun karena eksploitasi yang hanya mengandalkan potensi tegakan alami yang kurang diikuti upaya penanamannya menyebabkan fungsi ekonomi komoditi ini telah berakhir, walaupun secara biologis masih dapat dijumpai pohon-pohon cendana sisa eksploitasi. Bahkan pulau sumba yang dikenal sengan sebutan ”Sandalwood Island” sudah tidak menjadi sentra produksi cendana sejak tahun 1980. Tragedi kepunahan cendana juga terjadi di Pulau Timor.
Upaya pemulihan potensi cendana di Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan langkah strategis dan mendesak dilaksanakan, karena disamping pertimbangan nilai ekonominya, daerah setempat juga mempunyai keterbatasan ragam jenis dan potensi jenis tumbuhan penghasil kayu. Secara teoritis seharusnya langkah revitalisasi potensi cendana tersebut relatif mudah dilaksanakan mengingat NTT merupakan habitat cendana, tetapi dalam kenyataannya, seiring dengan perubahan lingkungan, dukungan IPTEK masih diperlukan untuk menjamin keberhasilan pembuatan tanaman cendana. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan aplikasi teknik kultur jaringan.
Kultur jaringan sangat penting dilakukan pada tanaman cendana, karena selain ketersediaan materi genetik yang sudah semakin langka di populasi alaminya, diharapkan melalui kultur jaringan dapat menyediakan bibit yang bersifat juvenile yang nantinya dapat digunakan sebagai bahan pembangunan kebun pangkas.Kendala Utama yang umum dijumpai dalam kultur jaringan, khususnya pada tanaman kehutanan, adalah teknik pemindahan plantlet (calon tanaman) dari lingkungan laboratorium ke lapangan. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan langkah aklimatisasi, yaitu suatu tahap untuk mempersiapkan plantlet siap ditanam di lapangan. Tahap aklimatisasi mutlak dilakukan pada tanaman hasil perbanyakan kultur jaringan karena plantlet akan mengalami perubahan fisiologis akibat perubahan lingkungan. Hal ini bisa dipahami karena pada pembiakan kultur jaringan semua faktor lingkungan terkontrol, sedangkan di lapangan faktor lingkungan sulit dikontrol.
METODE KULTUR JARINGAN
A. Kultur tunas aksiler (isolasi tunas aksiler dalam media yg mengandung unsur hara dlm keadaan steril dan kondisi tertentu)
B. Embriogenesis somatik (sel somatik baik haploid maupun diploid Berkembang membentuk tumbuhan baru melalui tahap perkembangan embrio yang spesifik tanpa melalui fusi gamet )
C. Tahapan Pembentukan Embrio Somatik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar