Minggu, 04 Mei 2014

TUGAS KKPI SMT VIII


Perkembangan Penelitian Kultur Jaringan (In Vitro) pada Tanaman Industri, Pangan, dan Hortikultura

PENDAHULUAN

Usaha di bidang pertanian yang semakin berkembang menyebabkan kebutuhan akan bibit semakin meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan bibit yang sangat banyak dengan waktu yang relatif cepat sangat sulit dan lama jika melalui prbanyakan secara konvensional. Dengan demikian, teknologi kultur jaringan telah terbukti dapat digunakan sebagai teknologi pilihan yang sangat menjanjikan untuk pemenuhan kebutuhan bibit tanaman.
Kultur jaringan merupakan salah satu aplikasi dari perkembangan bioteknologi. Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuh kembangkan bagian tanaman, baik berupa sel, jaringan atau organ dalam kondisi aseptik secara in vitro. Teknik kultur jaringan dicirikan dengan kondisi yang aseptik atau steril dari segala macam bentuk kontaminan, menggunakan media kultur yang memiliki kandungan nutrisi yang lengkap dan menggunakan ZPT (zat pengatur tumbuh), serta kondisi ruang tempat pelaksanaan kultur jaringan diatur suhu dan pencahayaannya (Yusnita, 2003).
Teknologi kultur jaringan ini memiliki faktor tertentu yang harus diantisipasi, yaitu penyimpangan genetik yang dapat mungkin terjadi. Untuk itu, perlu dimengerti mekanisme fisiologi apa yang terjadi, faktor apa saja yang menyebabkannya sehingga mutasi dapat dihindarkan. Banyak hal yang harus dipelajari dan dikuasai seperti mekanisme fisiologi, daya aktivitas, laju transportasi, sifat persistensi, daya aktivitas dari berbagai komponen organik dan anorganik penyusun media tumbuh serta faktor lain yang berpengaruh terhadap keberhasilan kultur in vitro.

ISI

Perbanyakan Tanaman Melalui Kultur Jaringan
Teknik kultur jaringan memanfaatkan prinsip perbanyakan tumbuhan secara vegetatif. Berbeda dari teknik perbanyakan tumbuhan secara konvensional, teknik kultur jaringan dilakukan dalam kondisi aseptik di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu. Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro. Dikatakan in vitro (Bahasa Latin), berarti “di dalam kaca” karena jaringan tersebut dibiakkan di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu (Hameed, 2006).
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga  tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional (Yusnita, 2003). Teori dasar dari kultur in vitro ini adalah totipotensi. Teori ini mempercayai bahwa setiap bagian tanaman dapat berkembang biak karena seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan-jaringan hidup. Oleh karena itu, semua organisme baru yang berhasil ditumbuhkan akan memiliki sifat yang sama persis dengan induknya (Khan, 1988).
  
1. Tanaman obat langka puar (Elettaria sumatrana). Secara visual tanaman tersebut mirip jahe dan secara konvensional mudah diperbanyak. Dengan kondisi tersebut timbul anggapan bahwa tanaman tersebut mudah diperbanyak melalui kultur jaringan. Tetapi setelah dicoba, sistem regenerasinya sangat lambat dan terdapat masa-lah pelayuan yang cepat. Apabila tumbuh sedikit, tunasnya cepat mati, keadaan yang sama ditemukan pada garut (Maranta arundinacea). Masalah oksidasi fenol yang sering dijumpai pada tanaman lain tidak ditemukan pada tanaman tersebut. Diduga masalah ini terjadi karena ada metabolik sekunder yang dikeluarkan oleh jaringan tanaman dan masalah semakin meningkat dengan kondisi formulasi media yang kaya akan garam-garam mineral yang dapat menimbulkan tekanan osmosa tinggi (Lestari, 2004).

2. Perakaran jambu mente (Anacardium occidentale). Jambu mente termasuk tanaman tahunan berkayu yang sangat lambat daya regenerasinya dan kesulitan meningkat apabila tunas in vitro diakarkan. Setelah dicoba lebih dari 200 formulasi media, akar dapat diinduksi pada media dasar dengan kandungan total ion yang rendah, diberi NAA dan asam amino tertentu. Formulasi media tidak terlalu kompleks tetapi memerlukan kesabaran untuk mendapatkan yang terbaik. Formulasi media terdiri dari garam-garam makro dan mikro sebanyak 14 unsur, vitamin umumnya 5 macam, zat pengatur tumbuh sebanyak 2 macam, dan anti oksidan. Apabila salah satu unsur dihilangkan akan memberikan hasil yang berbeda, selain kondisi fisiologi pohon induk, jenis eksplan, musim pengambilan eksplan serta faktor lain juga harus diperhitungkan. Semakin banyak unsur yang terkandung dalam media tumbuh maka semakin banyak kombinasi perlakuan yang harus diberikan. Pengalaman, pengetahuan mengenai fisiologi, peranan setiap komponen organik maupun anorganik, pengaruh faktor fisik, serta daya in-tuisi yang kuat sangat diperlukan untuk keberhasilan sistem regenerasi.

3. Perbanyakan vegetatif pepaya hasil persilangan pepaya Hawai dengan pepaya Bangkok. Beberapa tahun yang lalu, penelitian perbanyakan pepaya hasil persilangan antara pepaya Hawai dan pepaya Bangkok dilakukan dengan hasil yang kurang memuaskan. Masalah yang dihadapi adalah tunas tidak dapat tumbuh memanjang, rosette, daun cepat menguning, dan akhirnya gugur. Sebanyak 86 formulasi media telah dicoba mulai dari media MS (1,½, ¼), Anderson (1, ½), DKW (1,½, ¼), WPM (1, ½) kombinasi dengan sitokinin (zeatin, 2iP, BA, kine-tin), dan GA3 pada beberapa konsentrasi, penggunaan berbagai asam amino tetapi belum memberikan hasil yang baik. Biakan cenderung melakukan proliferasi tunas walaupun tidak diberi sitokinin dan tunasnya tetap pendek, cepat mengering serta selalu membentuk kalus bagian dasarnya. Setelah dicoba penggunaan media dasar yang kaya mineral, penambahan sitokinin konsentrasi rendah, beberapa asam amino, serta anti auksin, tunas dapat memanjang dan tidak menguning

Perbaikan Tanaman Melalui Kultur In Vitro
Beberapa metode penelitian kultur jaringan telah dilakukan untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman yaitu melalui metode keragaman somaklonal, seleksi in vitro, kultur anter, penyelamatan embrio, dan fusi protoplas (Mariska, 1998). Penelitian perbaikan tanaman melalui kultur in vitro sering dipertanyakan dan ditanggapi, sebagai penelitian yang mudah dan tidak berbobot, bahkan mulai ditinggalkan. Tetapi penelitian ini tetap dilakukan terutama pada spesies tanaman yang selalu diperbanyak secara vegetatif serta pada tanaman yang tidak berbunga. Apabila setiap regeneran baru tetap diteliti terus menerus (berkelanjutan) sampai di lapang, maka pada akhirnya akan diperoleh nomor-nomor harapan dengan sifat yang diharapkan.

1. Keragaman Somaklonal
Keragaman somaklonal didefinisikan sebagai keragaman genetik dari tanaman yang dihasilkan melalui kultur sel, baik sel somatik seperti sel daun, akar, dan batang, maupun sel gamet. Keragaman somaklonal yang terjadi dalam kultur jaringan merupakan hasil kumulatif dari mutasi genetik pada eksplan dan yang diinduksi pada kondisi in vitro. Keragaman somaklonal merupakan perubahan genetik yang bukan disebabkan oleh segregasi atau rekombinasi gen, seperti yang biasa terjadi akibat proses persilangan (Maralappanavaret al., 2000).
Keragaman somaklonal dalam kultur jaringan terjadi akibat penggunaan zat pengatur tumbuh dan tingkat konsentrasinya, lama fase pertumbuhan kalus, tipe kultur yang digunakan (sel, protoplasma, kalus jaringan), serta digunakan atau tidaknya media seleksi dalam kultur in vitro (Hameed, 2006).
Dapat dikatakan bahwa variasi somaklonal telah berhasil memperbaiki sifat produksi beberapa tanaman seperti tomat, tebu, seledri, jagung, padi, dan sorgum Tetapi juga harus dikatakan tentang ketidaksuksesan beberapa percobaan dengan pendekatan ini, misalnya pada tanaman gandum, jagung, dan barley meskipun diusahakan dengan skala yang besar dan ekstensif (Maralappanavar et al., 2000).
                Panili. Keragamaan somaklonal merupakan keragaman genetik yang terjadi secara spontan hasil regenerasi sel somatik. Perubahan sifat genetik dan sel somatik telah dilaporkan sejak tahun 1961. Metode tersebut telah diterapkan pada tanaman panili kombinasi dengan mutagen fisik (radiasi sinar gamma). Pengembangan panili mengalami masalah penyakit busuk batang yang disebabkan Fusarium oxysporum. Dari beratus-ratus somaklon yang akhirnya menjadi nomor baru telah diuji di rumah kaca dan lapang (di 2 lokasi yang sudah terkontaminasi penyakit F. oxysporum). Dari percobaan lapang di Sukabumi diperoleh sekitar 12 nomor yang tidak terserang. Nomor-nomor tersebut saat ini sudah ditanam di Bali (salah satu sentra produksi panili) yang sudah tercemar penyakit, bekerjasama dengan Dinas Pertanian setempat.
                Nilam. Nilam merupakan penghasil minyak atsiri yang potensial dikembangkan dan Indonesia merupakan pemasok utama di pasar dunia. Peningkatan kadar minyak nilam melalui teknik konvensional sulit dilakukan karena tanaman tersebut tidak berbunga. Peningkatan keragaman genetik dilakukan pada tunas in vitro yang telah mengalami periode kultur in vitro selama 2 tahun dan subkultur 12 kali. Kalus yang berasal dari jaringan daun yang diisolasi dari biakan tersebut kemudian dikaluskan dan dibuat suspensi sel kemudian massa selnya ditaburkan di atas kertas filter. Sel tersebut di-radiasi dengan sinar gamma 0-3 krad. Sekitar 411 somaklonal yang diperoleh diuji di 2 lokasi (Bogor dan Bandung) selama 2 tahun ber-turut-turut. Dari sekitar 411 soma-klonal diperoleh 5 somaklon yang kadar minyaknya tinggi dan di anta-ranya terdapat 1 somaklon yang kadar minyaknya mencapai 4% dan selalu stabil pada setiap panen de-ngan musim yang berbeda. Pada tahun ketiga dicoba kembali di Bogor, kadar minyaknya tetap stabil, demikian pula pada tahun keempat.
                Jahe. Masalah penyakit yang disebabkan bakteri Pseudomonas solanaceae pada jahe merupakan masalah yang sulit dipecahkan. Untuk meningkatkan keragaman genetik dicoba melalui keragaman somaklonal pada kalus dan tunas adventif yang telah mengalami periode kultur in vitro yang lama. Diperoleh sekitar 4 somaklon yang tidak menunjukkan gejala sakit setelah ditanam pada lokasi yang telah tercemar penyakit (Bogor) dan satu somaklon KJ 40 tumbuhnya lebih tegar dibandingkan dengan somaklon lainnya.

2. Seleksi In Vitro
Penggunaan metode seleksi in vitro pada perbaikan tanaman telah banyak digunakan untuk meningkatkan sifat ketahanan baik terhadap faktor biotik maupun abiotik. Seleksi in vitro lebih efesien dan hasilnya dapat dipertanggung jawabkan, karena melalui seleksi in vitro jutaan sel dapat diseleksi dengan hanya menggunakan beberapa botol kultur atau petridis, sedangkan seleksi di lapang harus menggunakan beratus – ratus tanaman yang diuji pada areal yang lebih luas, selain itu seleksi in vitro tidak terlalu dipengaruhi oleh lingkungan serta memungkinkan melakukan seleksi pada tingkat sel (Biswas et al., 2002).
 Teknik in vitro melalui variasi somaklonal dan perlakuan mutasi fisik seperti iradiasi sinar gamma pada jaringan atau sekelompok sel (kalus) merupakan alternatif untuk mendapatkan varian yang diinginkan. Melalui seleksi in vitro varian tersebut dapat diseleksi untuk mendapatkan varian tanaman yang toleran terhadap kekeringan (Sutjahjo, et. al., 2007).
 Seleksi in vitro untuk toleransi terhadap cekaman kekeringan yang dihasilkan dari kultur in vitro dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan metode seleksi in vitro sehingga dapat bermanfaat dalam program pemuliaan tanaman (Mattjik, 2005).
Untuk mendapatkan varian somaklonal yang diinginkan biasanya dilakukan dengan menggunakan teknik seleksi in vitro. Dalam hal ini kondisi selektif tertentu dapat digabungkan dalam media kultur in vitro dan dipakai untuk menumbuhkan varian-varian somaklon yang telah diperoleh. Tanaman hasil regenerasi dari jaringan yang dapat mengatasi kondisi selektif tersebut, besar kemungkinannya juga akan mempunyai fenotipe toleran terhadap kondisi selektif. Hal ini sangat menguntungkan karena proses seleksi yang dilakukan in vitro akan sangat efisien mengingat tempat yang dibutuhkan relatif sedikit, kondisi selektif dapat dibuat homogen, dan efektifitas seleksi akan sangat tinggi. Menurut Barwale (1990), kombinasi antara induksi keragaman somaklonal dan seleksi in vitro merupakan salah satu kesempatan yang menawarkan kemudahan dalam menghasilkan individu dengan karakter yang spesifik.
Metode seleksi in vitro sangat cocok digunakan untuk mendapatkan tanaman yang toleran terhadap kekeringan, karena dapat dilakukan penapisan atau penyaringan pada sekelompok populasi (sekelompok sel) pada kondisi yang seragam pada lingkungan yang terbatas. Dalam hal ini, ada 3 hal penting yang perlu diperhatikan dalam seleksi in vitro. Pertama, sistem regenerasi pada sel atau kalus yang resisten hasil seleksi. Kedua, kemampuan sel/kalus untuk memelihara integritas genetik ketahanan pada material yang diseleksi. Ketiga, perubahan genetik pada proses seleksi tidak hanya sekedar adaptasi fisiologis saja (Chopra et al., 1989). Salah satu metode untuk seleksi cekaman kekeringan secara in vitro yang digunakan adalah penggunaan senyawa osmotic stress seperti polyethylen glycol (PEG).
Tersedianya agen selektif untuk simulasi kekeringan yaitu PEG serta tersedianya sistem regenerasi kalus dan tunas menjadi planlet, memungkinkan seleksi in vitro dapat dilakukan untuk mendapatkan tanaman jeruk resisten terhadap kekeringan. Seleksi in vitro merupakan salah satu metode dari keragaman somaklonal tetapi lebih efektif dan efisien karena perubahan genetik lebih diarahkan pada sifat yang diinginkan. Metode seleksi in vitro diterapkan pada tanaman panili, lada, dan kedelai.
Lada. Untuk memecahkan masalah penyakit Phytopthora capsici, massa sel diinduksi dari jaringan daun dan diseleksi dengan filtrat P. capsici. Saat ini telah dihasilkan sekitar 8 somaklon yang akan diaklimatisasi di rumah kaca.
                Kedelai. Pada tahap awal penelitian kedelai dicoba 10 varietas, 7 jenis eksplan, dan 18 formulasi media untuk produksi kalus embriogenik, serta 25 formulasi media untuk pendewasaan dan perkecambahan. Dari hasil kegiatan awal, dicoba kembali formulasi media, sumber eksplan, dan kondisi fisiologi pohon induk yang memberikan hasil yang baik dan ternyata metode yang diper-oleh dapat diulang dengan keberhasilan yang relatif sama. Setelah diperoleh metode regenerasi melalui jalur embriogenesis somatik yang dapat diulang, maka dicoba menyeleksi massa sel pada media dengan kemasaman rendah (sekitar 4) dengan menggunakan AIC13. 6H20 sebagai komponen seleksi. Tanaman hasil seleksi in vitro telah ditanam sampai generasi ke-6 di lahan masam Gajrug (Banten) dan Jasinga (Kabupaten Bogor). Dari generasi ke-6, telah diperoleh galur-galur baru dengan produksi polong lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Sindoro yang telah dilepas sebagai varietas tahan lahan masam.
                Panili. Seleksi pada tanaman panili dilakukan pada struktur globular ukuran (1 mm) yang diseleksi dengan asam fusarat dan filtrat F. oxysporum. Seleksi dilakukan bertahap, tunas hasil regenerasi diseleksi silang dengan komponen seleksi lainnya. Hasil sementara menunjukkan bahwa tunas hasil regenerasi struktur globular yang tidak diseleksi apabila diinokulasi menjadi mati (screening in vitro) tetapi untuk tunas hasil seleksi tetap hidup. Terdapat perbedaan morfologi yang nyata, biakan dari asam fusarat lebih tipis akarnya sedangkan biakan dari filtrat F. Oxysporum daunnya lebih hijau dan lebih tebal.

3. Kultur Anter
Pada program pemuliaan tembakau terdapat satu kegiatan, yaitu kultur anter varietas Burley. Dari hasil penelitian telah diperoleh metode regenerasi melalui jalur embriogenesis somatik dengan menggunakan media MS + 0,30 mg/l GA3 + 750 mg/l glutamin. Benih somatik yang diperoleh dan anter mempunyai penampakan yang lebih kecil dari pohon induknya.

4. Embrio Rescue (Penyelamatan Embrio)
Pemuliaan tanaman terjadi melalui hibridisasi dan seleksi. Dengan menyilangkan tanaman, pemulia berusaha untuk menggabungkan karakter terbaik dari 2 tanaman yang berbeda. Melalui seleksi, pemulia mencoba untuk menyeleksi anakan yang memiliki kombinasi kualitas yang optimal dari kedua tanaman induk. Proses ini tentu saja sangat tergantung pada produksi benih viable. Jika benih viabel tidak terbentuk, tidak akan ada keturunan yang akan diseleksi. Tidak ada anakan tidak berarti fertilisasi tidak terjadi setelah polinasi. Kemungkinan terjadi keguguran embryo pada fase dini perkembangan biji, akibat penyebab yang tidak diketahui. Dengan teknik kultur jaringan, embryo yang belum matang ini dapat diselamatkan (embrio rescue) (Smith, 2000)
Teknik penyelamatan embrio (embryo rescue) mulai dikembangkan tahun 1900-an yang memungkinkan benih yang belum matang atau embrio diselamatkan untuk membentuk tanaman baru. Ini biasanya dilakukan untuk benih – benih yang memiliki masa dormansi yang panjang. Belakangan ini juga berkembang teknik penyelamatan bakal biji yang telah terserbuki tapi tidak pernah menghasilkan benih viable. Penyelamatan embryo banyak dilakukan untuk memperoleh hibrida interspesifik dan intergenerik. Misalnya pada kentang dan berbagai tanaman hias.
5. Fusi Protoplas
Fusi protoplas adalah salah satu metode persilangan atau hibridisasi tanaman denga   memanfaatkan rekayasa genetika konvensional (Maaike, 2004). Protoplas adalah sel tanaman tanpa bagian dinding sel (Cliff, 2001). Teknik fusi protoplas dapat digunakan untuk mencampur sifat genetis dari spesies tanaman yang sama ataupun dari spesies yang berbeda. Selain itu, teknik ini menguntungkan untuk diterapkan dalam persilangan tanaman steril ataupun tanaman dengan siklus hidup yang panjang. Untuk menginduksi atau mendukung terjadinya fusi protoplas dapat dilakukan dengan pemakaian senyawa kimia seperti polietilen glikol (PEG) ataupun penggunaan arus listrik untuk membantu fusi (elektrofusi) (Nejat, 1993).
Ketika dua protoplas bersatu, dapat terjadi pemisahan atau penggabungan dua inti sel (nukleus) sehingga menghasilkan tanaman dengan sifat baru hasil pencampuran kedua tetua.  Apabila salah satu inti sel hilang selama terjadinya fusi maka akan dihasilkan sel baru yang disebut  sitoplasmik hibrid (cybrid) (Rajiv, 2005).
Penelitian produksi bahan tanaman dan pemuliaan tanaman terung (Solanum melongena) terhadap penyakit tular tanah melalui fusi protoplas dengan dana dari Masyarakat Ekonomi Eropa telah dilakukan. Penelitian tersebut merupakan kerja sama antara peneliti Perancis, India, Italia, dan Indonesia. Masing-masing melakukan penelitian yang sama dengan spesies tanaman yang berasal dari negara-nya masingmasing. Teknik terbaru untuk isolasi dan fusi protoplas telah dicoba dan berhasil memfusikan S. melongena de-ngan S. torvum atau S. aethiopicum. Hasil fusi yang dihasilkan oleh se-mua negara yang terlibat telah ditanam di Inlitbio Pacet. Selain itu, tanaman hibrida somatik hasil fusi telah dilakukan kultur anter untuk mendapatkan tanaman dihaploid dan tanaman tersebut kemudian disilang balik dengan S. melongena dan tanaman F1-nya menunjukkan sifat ketahanan yang sama dengan S. aethiopicum dan buah menyerupai S. melongena
Penyimpanan Tanaman Obat Langka Melalui Kultur Jaringan
Dari spesies tumbuhan obat yang ada di Indonesia, sekitar 31 telah dikategorikan langka. Untuk itu, penyelamatan tumbuhan obat langka ini perlu dilakukan dan salah satunya dengan menyimpan sebagai koleksi in vitro. Sampai saat ini, tumbuhan obat langka yang telah diselamatkan disajikan pada Tabel 3. Metode yang digunakan antara lain melalui pertumbuhan minimal.

5. CONTOH GAMBAR
 


 








 
















 

PENUTUP
Kesimpulan
1.  Kultur jaringan dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk perbanyakan tetapi juga untuk perbaikan tanaman dan penyimpanan plasma nutfah.
2. Untuk dapat merakit varietas baru, penelitian tidak hanya dilakukan di laboratorium tetapi harus dilanjutkan sampai lapang dan sangat diperlukan kerja sama dengan para pemulia konvensional.

DAFTAR PUSTAKA
Barwale, U.B dan J.M. Widholm. 1990. Soybean: PlantRegeneration and Somaclonal Variation. Dalam Y.P.S. Bajaj (Ed). Biotechnology in Agricultural and Forestry. Vol 10. Legumes & Oil Seed Crop 1. Springer-Verlag Heidelberg. Berlin.
Biswas, J., B. Chowdhurry, A. Bhattacharya, and B. Mandal. 2002. In vitro  screening for increases drought tolerance in rice. In Vitro Cell. Dev Biol-Plant  38:525-530.
Chopra, et.al. 1989. Selection In Vitro. Educa Book. Australia.
Hameed N, Shabbir A, Ali A, Bajwa R. 2006. In vitro micropropagation of disease free rose (Rosa indica L.). Mycopath 4:35-38.
Khan IA, Shaw JJ. 1988. Biotechnology in Agriculture. Punjab. Agric. Res. Coordination Board Faisalabad, Pakistan. pp. 2.
Lestari, E.G., I. Mariska, dan D. Seswita. 2004. Aplikasi kultur jaringan untuk perbanyakan klonal tanaman kencur. Warta Tumbuhan II(3):11-14.
Maaike Raaijmakers (Juni 2004). “Protoplast fusion and organic farming”. liff L. Hedley (2001). Carbohydrates in Grain Legume Seeds: Improving Nutritional Quality and Agronomic Characteristics. CABI. ISBN 978-0-85199-467-3.Page.156.
Maralappanavar, M. S., M. S. Kuruvinashefti dan C. C. Harti. 2000. Regeneration, establishment and evaluation of somaclones in  Sorghum bicolor  (L.) Moench. Euphytica115: 173-180.
Mariska, I. dan Hobir. 1998b. Peningkatan keragaman genetik tanaman melalui metode in vitro. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian XVII(4):115-121.
Mattjik, N.A. 2005. Peranan Kultur Jaringan dalam Perbaikan Tanaman. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Kultur Jaringan. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, 24 September 2005. 102 hlm. Smith, R.H. 2000. Plant Tissue Culture: Techniques and Experiments. Academic press, London.
Nejat Düzgüneş (1993). Membrane fusion techniques. Academic Press. ISBN 978-0-12-182122-7.Page.379-388.
Rajiv Tyagi, P.R. 2005. Yadav. Biotechnology of Plant Tissue. Educa Books. ISBN 978-81-8356-073-3.Page.94-95.
Sutjahjo SH, Abdul K dan Ika M. 2007. Efektifitas polietilena glikol sebagai bahan penyeleksi kalus nilam yang diradiasi sinar gamma untuk toleransi terhadap cekaman kekeringan. Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia. Vol. 9. No. 1, 2007. Hlm 48-57.
Yusnita, 2003. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Minggu, 02 Maret 2014

Tugas KKPI kelas 4 Semester 8 untuk Jurusan Agribisnis Tanaman Pertanian (ATP) Tahun 2013/2014
Contoh perusahaan dimana saya (siswa) sebagai pemilik perusahaan ini. Perusahaan yang saya buat sesuai dengan ketentuan dari guru yaitu perusahaan yang di buat sama dengan perusahaan tempat PI semester 1.

Cerita Singkat
PT. DHARMA SANTOSA bergerak di bidang Perkebunan. Tanaman budidaya yang di kembangkan dalam riset kami pada jenis tanaman Perkebunan antaranya : Karet dan Kakao. Untuk memenuhi permintaan pasar PT. DHARMA SANTOSA  membuka kebun produksi di daerah Ngadirejo. Kebun yang dimiliki luasnya sekitar 40 hektar. Semua kegiatan dilakukan di kebun tersebut, mulai dari Persiapan Lahan, penanaman, sampai penanganan pasca panen. Kantor pusat PT. DHARMA SANTOSA berada di Temanggung , alamatnya di Jalan Yos Sudarso no. 47.
Berdirinya PT. DHARMA SANTOSA berawal dari peluang yang saya lihat di bidang Perkebunan. Peluang memperoleh keuntungan yang lumayan besar dapat terlihat saat saya mulai merintis usaha dalam bidang perkebunan kakao dan karet ini. Dapat di lihat juga bahwa setiap orang di lapisan negeri ini membutuhkannya, misalnya untuk bahan dasar membuat bubuk coklat, perusahaan pasti mencari bahan di pabrik kakao. Belum lagi untuk bahan dasar ban mobil, untuk bahan dasar sepatu karet / boots, dan lain sebagainya. Saya rasa prospek untuk perkebunan tanaman kakao dan karet ini sangat cerah.
Harga jual yang perusahaan buat relative tinggi. Kami menawarkan kualitas yang bisa di tandingkan dengan produk-produk perusahaan lain. Kami juga mengeksport hasil getah karet atau sheet-sheet karet di beberapa Negara.

1.      Komoditas PT. Delaga Ceka.
PT. DHARMA SANTOSA yang bergerak dibidang Perkebunan menyediakan produk berkualitas unggul. Beberapa komoditas dikembangkan di perusahaan ini seperti :
a.      Kakao
b.      Karet

2.      Penanganan QC (Quality Control) perusahaan
Tugas Pengendalian Quality di perusahaan ini terbagi kedalam berbagai department yang memiliki tugas dan fungsi masing-masing namun tetap terkait dalam satu rangkaian untuk mewujudkan produk yang berkualitas tinggi.
a.      Research and Development (RnD) Department
      Department ini merupakan department yang memiliki dua fungsi pokok yaitu :
·        HPT
·         Perbanyakan Kultur Jaringan


b.      QC Produksi
                  QC Produksi memiliki tugas dalam penentuan kualitas produk yang diproduksi. Berbagai tes dilakukan demi  mendapatkan mutu yang diinginkan. Tes atau pengujian yang dilakukan antara lain adalah :
·                     Tes Daya Tumbuh
·                      Tes Hibriditas
·                     Tes Kadar Air Benih
c.      QC Stok Product
                  QC ini secara luas dapat diartikan sebagai Quality Control of Finish Good Product. QC Stock Product bertanggung jawab terhadap aplikasi produk di lapangan.

3.      Penanganan Limbah Perusahaan

Limbah yang dihasilkan oleh kegiatan produksi di PT. DHARMA SANTOSA lebih tergolong kedalam Limbah organik. Limbah organik adalah limbah yang mudah terurai oleh aktivitas organisme pengurai yaitu cacing dan berbagai microba pengurai lainnya. Oleh sebab itu karena bahaya yang ditimbulkan tidak terlalu fatal, maka penanganannya pun tidak terlalu sulit. Beberapa limbah sering diolah untuk dijadikan kompos. Untuk limbah non-organik pengolahannya dengan cara dibakar pada tungku yang sudah didesaign ramah lingkungan dan aman bagi yang mengoperasikan maupun daerah sekitar.


4.      HRD dan standar pegawai perusahaan

HRD standar perusahaan PT. DHARMA SANTOSA sesuai penempatan kerja. Staff yang berada di kantor pusat minimal lulusan S1 semua jurusan, disiplin, bekerja keras, menguasai keahlian pada bidangnya. Kemudian Staff pada kebun perusahaan memiliki standar minimal lulusan SMA/K sederajat, disiplin, bekerja keras, menguasai keahlian pada bidangnya. Karyawan harian perusahaan memprioritaskan yang mampu, bekerja keras, tidak mudah menyerah, disiplin. Yang paling diutamanakan perusahaan kami jujur, disiplin, bekerja keras.

5.      Produk hasil olah dan sasaran pemakai lokal/eksport/import perusahaan

Produk yang dihasilkan di Perusahaan ini yaitu biji kakao kering, dan lembaran-lembaran / sheet lateks kering. Target pemasaran produk yang dihasilakn melingkupi area lokal, dan juga di eksport ke beberapa Negara seperti Malaysia, thailand, dan brunei.

Cara Budidaya Tanaman Kakao yang Baik


Syarat Pertumbuhan Kakao
 Iklim 
Ditinjau dari wilayah penanamannya, cokelat ditanam pada daerah-daerah yang berada pada 10oLU-10oLS. Areal penanaman cokelat yang ideal adalah daerah-daerah bercurah hujan 1.100-3.000 mm/tahun. Suhu udara ideal  bagi pertumbuhan cokelat adalah 30-32oC (maksimum) dan 18-21oC (minimum). Berdasarkan keadaan iklim di Indonesia, suhu udara 25–26oC merupakan suhu udara rata-rata tahunan tanpa faktor pembatas. Karena itu, daerah-daerah tersebut sangat cocok jika ditanami cokelat. Cahaya matahari yang terlalu banyak menyoroti tanaman cokelat akan menyebabkan lilit batang kecil, daun sempit dan tanaman relatif pendek. 
 Media Tanam 
 Pertumbuhan bibit tanaman  kakao terbaik diperoleh pada tanah yang didominasi oleh mineral  liat  smektit dan berturut-turut diikuti oleh tanah yang mengandung khlorit, kaolinit dan haloisit.b)   Tanaman cokelat dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang memiliki keasaman (pH) 6-7,5; c)   Air tanah yang mempengaruhi aerasi dalam rangka pertumbuhan dan serapan hara. Untuk itu, kedalam air tanah diisyaratkan minimal 3 m, d)   Faktor kemiringan lahan sangat menentukan kedalaman air tanah. Pembuatan teras pada lahan yang kemiringannya 8% dan 25% masing-masing dengan lebar minimal 1 m dan 1,5 m. Sedangkan lahan yang kemiringannya lebih dari 40% sebaiknya tidak ditanami cokelat. Daerah yang cocok untuk penanaman cokelat adalah lahan yang berada pada ketinggian 200-700 m dpl.  

Pedoman Teknis Budidaya
 Pembibitan 
Perbanyakan tanaman kakao lebih sering dilakukan dengan cara generatif karena bibit dihasilkan dalam waktu yang cepat dan jumlah yang banyak. Persyaratan Benih Benih yang baik berasal dari buah berbentuk normal, sehat dan masak di pohon Buah tersebut berwarna kuning, jika diguncang timbul suara dan jika diketuk dengan tangan timbul gema. Bibit yang baik harus memenuhi persyaratan, antara lain:
a)   Pertumbuhan bibit normal, yaitu tidak kerdil dan tidak terlalu jagur.
b)   Bebas hama dan penyakit serta kerusakan lainnya.
c)   Berumur 4–6 bulan. 
 Penyiapan Benih 
Buah dipotong  membujur, lalu benih yang berada di bagian tengah diambil sebanyak 20-25. Bersihkan lendir buah dengan meremas-remasnya dalam serbuk gergaji lalu dicuci dengan air dan direndam dengan fungisida. Benih dijemur di bawah sinar matahari. Benih yang baik memiliki daya kecambah sedikitnya 80%.  
Teknik Penyemaian Benih 
Lokasi bedengan persemaian dibersihkan dari pohon dan rumput serta batu dan kerikil. Ukuran bedengan 1,2 x 1,5 m panjang 10-15 m dan tinggi 10 cm arah utara-selatan. Tanah bedengan dicangkul 30 cm, setelah dirapikan diberi lapisan pasir 5-10 cm dan tepi bedengan diberi dinding penahan dari kayu/batu bata. Bedengan diberi naungan dari anyaman daun alang-alang, kelapa/tebu dengan tinggi atap di sisi Timur 1,5 m dan di sisi Barat 1,2 m.  Sebelum disemai benih dicelup ke dalam formalin 2,5% selama 10 menit. Benih dibenamkan (mata benih diletakkan di bagian bawah) ke dalam lapisan pasir sedalam 1/3 bagian dengan jarak tanam 2,5 x 5 cm.  Segera setelah penyemaian, benih disiram. Penyiraman selanjutnya dilakukan dua kali sehari dan disemprot insektisida jika perlu. Keping biji terbuka tidak serentak sehingga perlu dibantu dengan tangan. Setelah 4-5 hari di persemaian benih sudah berkecambah dan siap dipindahtanamkan ke polybag. 
 Pemeliharaan pembibitan 
Media pembibitan berupa campuran tanah subur, pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 2:1:1, kemudian media ini  diayak dan dimasukkan ke dalam polybag 20 x 30 cm sampai 1-2 cm di bawah tepi polybag.  Kecambah yang memenuhi syarat untuk dipindahkan ke dalam pembibitan berkecambah pada hari ke 4-5 dan akarnya lurus. Satu kecambah kakao dimasukkan ke dalam lubang sedalam telunjuk, lalu lubang ditutup dengan media.  Polybag berisi kecambah disimpan di lokasi pembibitan dengan jarak 60 cm dalam pola segitiga sama sisi. Supaya tidak bergerak, polibag diletakkan di dalam alur sedalam 5 cm atau ditimbun dengan tanah secukupnya. Pembibitan dinaungi oleh pohon pelindung atau dibuat atap dari anyaman bambu Pembibitan disiram dua kali sehari kecuali jika hujan. Air siraman tidak boleh menggenangi permukaan media.  Bibit  dipupuk setiap 14 hari sampai berumur 3 bulan dengan ZA (2 gram/bibit) atau urea (1 gram/bibit) atau NPK (2 gram/bibit). Pupuk diberikan pada jarak 5 cm melingkarai batang kecuali untuk urea yang diberikan dalam bentuk larutan. Pengendalian hama dilakukan dengan penyemprotan insektisida dan fungisida setiap 8 hari.  
Pemindahan Bibit Setelah berumur 3 bulan, bibit dalam polybag dipindahkan ke lapangan dan naungan dikurangi secara bertahap.  Bibit yang baik untuk ditanam di lapangan berumur 4-5 bulan, tinggi 50-60 cm, berdaun 20-45 helai dengan sedikitnya 4 helai daun tua, diameter batang 8 mm dan sehat. Dengan jarak tanam 3 x 3 m, kebutuhan bibit untuk satu hektar adalah 1250 batang termasuk untuk penyulaman. 
Pengolahan Media Tanam 
Persiapan
Lahan perkebunan coklat/kakao dapat berasal dari hutan asli, hutan sekunder, tegalan, bekas tanaman perkebunan atau pekarangan. Lahan yang miring harus dibuat teras-teras agar tidak terjadi erosi. Areal dengan kemiringan 25-60% harus dibuat teras individu.  
Pembukaan Lahan 
Cara penyiapan lahan dapat dengan cara pemberihan selektif dan pembersihan total. Alang-alang di tanah tegalan harus dibersihkan/dimusnahkan supaya tanaman kakao dan pohon naungan dapat tumbuh baik. Untuk memperlancar pembuangan air, saluran drainase yang secara alami telah ada harus dipertahankan dan berfungsi sebagai saluran primer. Saluran sekunder dan tersier dibangun sesuai dengan keadaan lapangan.  
Pengapuran 
Tanah-tanah dengan pH di bawah 5 perlu diberi kapur berupa batu kapur sebanyak 2 ton/ha atau kapur tembok sebanyak 1.500 kg/ha.
Pemupukan 
Pemupukan sebelum bibit ditanam dapat dilakukan guna untuk merangsang pertumbuhan bibit cokelat. Lubang-lubang tersebut perlu diberi pupuk dengan pupuk Agrophos sebanyak 300 gram/lubang atau pupuk urea sebanyak 200 gram/lubang, pupuk TSP sebanyak 100 gram/lubang. Pupuk-pupuk tersebut diberikan 2 (dua) minggu sebelum penanaman bibit cokelat, kemudian lubang tersebut ditutup kembali dengan tanah atas yang dicampur dengan pupuk  kandang/kompos. 
Teknik Penanaman 
 Penentuan Pola Tanaman 
Tanaman kakao mutlak memerlukan pohon pelindung yang ditanam sebagai tanaman lorong diantara tanaman-tanaman kakao. Terdapat dua macam pohon pelindung yaitu:a)   Pohon pelindung sementara. Pohon ini diperlukan untuk melindungi tanaman kakao muda (belum berproduksi) dari tiupan angin dan sinar matahari. Jenis pohon yang dapat ditanam adalah pisang (Musa paradisiaca), turi (Sesbania sp.), Flemingia congestaatau Clotaralia sp.b)   Pohon pelindung tetapPohon ini harus dipertahankan sepanjang hidup tanaman kakao dan berfungsi sebagai melindungi tanaman kakao yang sudah produktif dari kerusakan sinar matahari dan menghambat kecepatan angin. Jenis pohon yang cocok adalah Lamtoro (Leucena sp.), Sengon Jawa (Albizia stipula), Dadap (Erythrina sp.) dan Kelapa (Cocos nucifera). Pohon pelindung tetap ditanam dengan jarak tanam 6 x 3 m.  Jarak tanam yang diajurkan adalah 3 X 3 m2 dengan kerapatan pohon 1.100 batang pohon/hektar. Jarak ini sangat ideal karena nantinya pohon akan membentuk tajuk yang seimbang sehingga tanaman tidak akan mudah tumbang.
 Pembuatan Lubang Tanam 
Lubang tanam dibuat 2-3 bulan sebelum tanam dengan ukuran:a)   40 x 40 x 40 cm untuk tanah bertekstur sedangb)   60 x 60 x 60 cm atau 80 x 80 x 80 cm untuk tanah bertekstur beratc)   30 x 30 x 30 cm untuk tanah bertekstur ringan Lubang dipupuk dengan Agrophos 300 gram/lubang atau campuran urea 200 gram/lubang dan Sp-36 100 gram/lubang. Tutup kembali lubang tanam. 
 Cara Penanaman 
a)   Polybag disayat pada bagian sisi dan bawah, keluarkan bibit dan media dalam keadaan utuh.
b)   Lubangi  lubang tanam yang telah ditutup lagi tersebut selebar diameter polybag. Letakkan bibit sehingga permukaan media sejajar dengan tanah.
c)   Masukkan kembali tanah galian dan padatkan tanah di sekeliling bibit.
d)   Topang batang bibit dengan dua potong kayu/bambu.
e)   Untuk mencegah gangguan hewan, tanaman kakao harus diberi pagar pengaman dari bambu.
Pemeliharaan Tanaman 
Penjarangan dan Penyulaman 
Penyulaman dapat dilakukan sampai tanaman berumur 10 tahun. 
Sanitasi lingkungan
Sanitasi dilakukan dengan penyiangan, membersihkan bagian tanaman yang terinfeksi, membuang cangkang buah yang berserakan di bawah pohon. Untuk penyiangan dilakukan dengan membabat tanaman pengganggu sekitar 50 cm dari pangkal batang atau dengan herbisida sebanyak 1,5-2,0 liter/ha yang dicampur dengan 500-600 liter air. Penyiangan yang paling aman adalah dengan cara mencabut tanaman pengganggu.Tujuan penyiangan/pengendalian gulma adalah untuk mencegah persaingan dalam penyerapan air dan unsur hara, untuk mencegah hama dan penyakit serta gulma yang merambat pada tanaman cokelat/kakao. Dalam pemberantasan gulma harus dikaukan rutin minimal satu bulan sekali, yaitu dengan menggunakan cangkul, koret/dicabut dengan tangan. 
Pemangkasan 
Tujuan pemangkasan adalah untuk menjaga/pencegahan serangan hama atau penyakit, membentuk pohon, memelihara tanaman dan untuk memacu produksi.  
a)   Pemangkasan bentuk1.   Fase muda. Dilakukan pada saat tanaman berumur 8-12 bulan dengan membuang cabang yang lemah dan mempertahankan 3-4 cabang yang letaknya merata ke segala arah untuk membentuk jorquette (percabangan) 2. Fase remaja. Dilakukan pada saat tanaman berumur 18-24 bulan dengan membuang cabang primer sejauh 30-60 cm dari jorquette (percabangan)
b)   Pemangkasan pemeliharaan.Membuang tunas yang tidak diinginkan, cabang kering, cabang melintang dan ranting yang menyebabkan tanaman terlalu rimbun.
c)   Pemangkasan produksi. Bertujuan untuk mendorong tanaman agar memiliki kemampuan berproduksi secara maksimal. Pemangkasan ini dilakukan untuk mengurangi kelebatan daun.  
Pemupukan 
Dosis pemupukan tanaman yang belum berproduksi (gram/tanaman):
a)   Umur 2 bulan: ZA=50 gram/pohon.
b)   Umur 6 bulan: ZA=75 gram/pohon; TSP=50 gram/pohon; KCl=30 gram/pohon; Kleserit=25 gram/pohon
c)   Umur 12 bulan: ZA=100 gram/pohon
d)   Umur 18 bulan: ZA=150 gram/pohon; TSP=100 gram/pohon; KCl=70 gram/pohon; Kleserit=50 gram/pohon
e)   Umur 24 bulan: ZA=200 gram/pohon Dosis pemupukan tanaman berproduksi (gram/tanaman):a)   Umur 3 tahun: ZA = 2 x 100 gram/pohon, Urea = 2 x 50 gram/pohon, TSP = 2 x 50 gram/pohon, KCl = 2 x 50 gram/pohon.b)   Umur 4 tahun: ZA = 2 x 100 gram/pohon, Urea = 2 x 100 gram/pohon, TSP = 2 x 100 gram/pohon, KCl = 2 x 100 gram/pohon.c)   5 tahun: ZA = 2 x 250 gram/pohon, Urea = 2 x 125 gram/pohon, TSP= 2 x 125 gram/pohon, KCl = 2 x 125 gram/pohon. Pemupukan dilakukan dengan membuat alur sedalam 10 cm di sekeliling batang kakao dengan diameter kira-kira ½ tajuk. Waktu pemupukan di awal musim hujan dan akhir musim hujan.
Penyiraman 
Penyiraman tanaman cokelat yang tumbuh dengan kondisi tanah yang baik dan berpohon pelindung, tidak perlu banyak memerlukan air. Air yang berlebihan  menyebabkan kondisi tanah menjadi sangat lembab. Penyiraman pohon cokelat dilakukan pada tanaman muda terutama tanaman yang tak diberi pohon pelindung. 
 Penyemprotan Pestisida 
Penyemprotan pestisida  dilakukan dengan dua tahapan, pertama bersifat untuk pencegahan sebelum diketahui ada hama yang benar-benar menyerang. Kadar dan jenis pestisida  disesuaikan. Penyemprotan tahapan kedua adalah usaha  pemberantasan hama, selain jenis juga kadarnya ditingkatkan. Misal untuk pemberantasan digunakan insektisida berbahan aktif seperti Dekametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Sipermetrin (Cymbush 5 EC), Metomil Nudrin 24 WSC/Lannate 20 L) dan Fenitron  (Karbation 50 EC). 
Penyerbukan Buatan 
Dari bunga yang muncul hanya 5% yang akan menjadi buah, peningkatan persentase pembuahan dapat dilakukan dengan  penyerbukan buatan. Bagian bunga yang mekar digosok denga  bunga jantan yang telah dipetik sebelumnya, kemudian bunga ditutup dengan sungkup. Penggosokan dilakukan dengan jari tangan.
 Rehabilitasi Tanaman Dewasa 
Tanaman dewasa yang produktivitasnya mulai menurun tidak diremajakan (ditebang untuk diganti tanaman baru), tetapi direhabilitasi dengan cara okulasi tanaman dewasa dan sambung samping tanaman dewasa. Cara yang kedua lebih unggul karena peremajaan dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat, murah dan lebih cepat berproduksi. Entres (bahan sambungan) diambil dari kebun entres atau produksi yang telah diseleksi, berupa cabang berwarna hijau, hijau kekakaoan atau kakao, diameter 0,75-1,50 cm dan panjang 40-50 cm. Sambungan dapat dibuka setelah 3-4 minggu. 
 Panen Sering
Panen sering bertujuan untuk mengurangi jumlah OPT terutama PBK yang menyerang buah kakao.

Hama dan Penyakit 
Hama 
1.        Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella Snell)
2.        Kepik Penghisap Buah (Helopeltis sp.)
3.        Penggerek Batang atau Cabang (Zeuzera coffeae)
4.        Ulat Api (Darna trima)
5.        Ulat Jengkal/Ulat Kilan (Hyposidra talaca)
6.        Apogonia sp.
7.        Tikus (Rattus argentiventer Rob. & Kloss)
Penyakit 
1.        Penyakit Busuk Buah (Phytophthora palmivora)
2.        Kanker Batang (Phytophthora palmivora)
3.        Vascular Streak Dieback (Oncobasidium theobromae)
4.        Jamur Upas (Corticium salmonicolor)
5.        Penyakit Antraknose (Colletotrichum gloeosporioides)

Panen
Ciri dan Umur Panen 
 usia 5 bulan. Ciri-ciri buah akan dipanen adalah warna kuning pada alur buah; warna kuning pada alur buah dan punggung alur buah; warna kuning pada seluruh permukaan buah dan warna kuning tua pada seluruh permukaan buah. Kakao masak pohon dicirikan dengan perubahan warna buah:a)   Warna buah sebelum masak hijau, setelah masak alur buah menjadi kuning.b)   Warna buah sebelum masak merah tua, warna buah setelah masak merah muda, jingga, kuning. Buah akan masak pada waktu 5,5 bulan (di dataran rendah) atau 6 bulan (di dataran tinggi) setelah penyerbukan. Pemetikan buah dilakukan pada buah yang tepat masak. Kadar gula buah kurang masak rendah sehingga hasil fermentasi kurang baik, sebaliknya pada buah yang terlalu masak, biji seringkali telah berkecambah, pulp mengering dan aroma berkurang.  ±Buah cokelat/kakao bisa dipenen apabila perubahan warna  kulit dan setelah fase pembuahan sampai menjadi buah dan matang
Cara Panen  
Untuk memanen cokelat digunakan pisau tajam. Bila letak buah tinggi, pisau disambung dengan bambu. Cara pemetikannya, jangan sampai melukai batang yang ditumbuhi buah. Pemetikan cokelat hendaknya dilakukan hanya dengan memotong tangkai buah tepat dibatang/cabang yang ditumbuhi buah. Hal tersebut agar tidak menghalangi pembungaan pada periode berikutnya. Pemetikan berada di bawah pengawasan mandor. Setiap mandor mengawasi 20 orang per hari. Seorang pemetik dapat memetik buah kakao sebanyak  1.500 buah per hari.  Buah matang dengan kepadatan cukup tinggi dipanen dengan sistem 6/7 artinya buah di areal tersebut dipetik enam hari dalam 7 hari. Jika kepadatan buah matang rendah, dipanen dengan sistem 7/14.  
Periode Panen 
Panen dilakukan 7-14 hari sekali. Selama panen jangan melukai batang/cabang yang ditumbuhi buah karena bunga tidak dapat tumbuh labi di tempat tersebut pada periode berbunga selanjutnya.  
Prakiraan Produksi 
Tanaman kakao mencapai produksi maksimal pada umur 5-13 tahun. Produksi per hektar dalam satu tahun adalah 1.000 kg biji kakao kering.  

 Pascapanen 
 Pengumpulan 
Buah yang telah dipanen biasanya dikumpulkan pada tempat tertentu dan dikelompokkan menurut kelas kematangan. Pemecahan kulit dilaksanakan dengan menggunakan kayu bulat yang keras. 
 Penyortiran/pengelompokkan
 Biji kakao kering dibersihkan dari kotoran dan dikelompokkan berdasarkan mutunya:a)   Mutu A: dalam 100 gram biji terdapat 90-100 butir bijib)   Mutu B: dalam 100 gram biji terdapat 100-110 butir bijic)   Mutu C: dalam 100 gram biji terdapat 110-120 butir biji. 
Penyimpanan 
Biji kakao basah diperam (difermentasi) selama 6 hari di dalam kotak kayu tebal yang dilapisi aluminium dan bagian bawahnya diberi lubang-lubang kecil dengan cara sebagai berikut:a)   Tumpukkan biji di dalam kotak dengan tinggi tumpukan tidak lebih dari 75.b)   Tutup dengan karung goni atau daun pisang.c)   Aduk-aduk biji secara periodik (1 x 24 jam) agar suhu naik sampai 50 derajat C.
 Pengemasan dan Pengangkutan
 Biji-biji cokelat yang sudah kering dapat dimasukan dalam karung goni. Tiap goni diisi 60 kilogram biji cokelat kering. kemudian karung-karung yang berisi biji cokelat kering tersebut disimpan dalam gudang yang bersih, kering dan berfentilasi yang baik. Sebaiknya biji cokelat tersebut sudah segera bisa dijual dan diangkut dengan menggunakan truk dan sebagainya. Penyimpanan di gudang, sebaiknya tidak lebih dari 6 bulan, dan setiap tiga bulan harus diperiksa untuk melihat ada tidaknya jamur atau hama yang menyerang biji cokelat.
 Penanganan Lain 
Setelah diperam, biji dicuci agar mengkilap (biji kakao jenis Bulk tidak dicuci) setelah itu dikeringkan sampai kadar airnya 6-7%. Pengeringan bisa dengan sinar matahari atau alat pengering.

Sumber :
Anonim. 1998.  Pengenalan dan Pengendalian Hama-Penyakit Tanaman Kakao. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Jember. No. Seri:01.004.98. 28 hal.

Enwistle. 1972. Hama dan Penyakit Utama Tanaman Kakao (terjemahan). http://id.findpdf.org/wiki.com(1809-2010).

Hindayana, Dadan dkk. 2002Musuh Alami, Hama dan Penyakit Tanaman Kakao. Proyek Pengendalian Hama Terpadu Perkebunan RakyatDirektorat Perlindungan Perkebunan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Departemen Pertanian. Jakarta.

Iskandar, A.Md. 2010. Cara Budidaya Kakao. Gedung Wani (Leaflet1)

Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi MIG Corp.

Pracaya. 2008. Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.


Budidaya Tanaman Karet Yang Baik Dan Benar - 
Tanaman karet yang memiliki nama latin Hevea braziliensis ini menjadi salah satu tanaman jangka panjang yang digandrungi oleh masyarakat khususnya kalangan menengah keatas. Tanaman yang berasal dari negeri Brasil ini dipandang sebagai investasi yang sangat menjanjikan. Selain itu juga, Karet mempunyai arti penting dalam aspek kehidupan sosial ekonomi masyarakat indonesia, yaitu Sebagai salah satu komoditi penghasil devisa negara serta sebagai tempat persediaanya lapangan pekerjaan bagi penduduk sekitar.

Melihat dari latar belakang tersebut, CaraMenanam.com sedikit berbagi informasi seputar Budidaya Tanaman Karet Yang Baik Dan Benar diantaranya senagai berikut;

1. Persiapan Lahan Tanam.
Untuk lahan tanam pada tanaman karet ini memiliki syarat atau kriteria tanah yang perlu diperhatikan, diantaranya yaitu ;
  • Tanah harus gembur.
  • Kedalaman antara 1-2 meter.
  • Tidak bercadas.
  • PH tanah 3,5 – 7,0.
  • Ketinggian tempat antara 0 – 400 meter paling baik pada ketinggian 0 – 200 meter, setiap kenaikan 200 meter matang sedap terlambat 6 bulan.
Selain dari kriteria tanah, iklim juga mempengaruhi tumbuh kembang tanaman karet itu sendiri. Iklim yang cocok adalah Curah hujan minimum 1.500 mm pertahun, jumlah hari hujan 100 – 150 hari, curah hujan optimum 2.500 – 4.000 mm.

2. Penanaman.
Untuk penanaman diperlukan tahap-tahapan sebagai berikut ;
  • Pembuatan lubang tanam dan pengajiran kedua.
  • Jarak tanam untuk tanah ringan 45X45X30 Cm, untuk tanah berat 60 X 60 X 40 Cm.
  • Lubang dibiarkan satu bulan atau lebih.
  • Jenis penutup tanah; Puecaria Javanica, Colopogonium moconoides dan centrosema fubercens, penanaman dapat diatur atau ditugal setelah tanah diolah dan di bersihkan, jumlah bibit yang ditanam 15 – 20 Kg/Ha dengan perbandingan 1 : 5 : 4 antara Pueraria Javanoica : Colopoganium moconoides dan cetrosema fubercens.
  • Penanaman ; bibit ditanam pada lubang tanah yang telah dsiberi tanda dan ditekan sehingga leher akan tetap sejajar dengan permukaan tanah, tanah sekeliling bibit diinjak-injak sampai padat sehingga bibit tidak goyang, untuk stump mata tidur mata menghadap ke sekatan atau di sesuaikan dengan arah angin.

3. Pemeliharaan.
Setelah penanaman tanaman karet selanjutnya ke tahap pemeliharaan, baik secara rutin maupun secara berkala. Untuk pemeliharaan ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu;

A. Penyulaman.
  • Bibit yang baru ditanam selama tiga bulan pertama setelah tanam diamati terus menerus.
  • Tanaman yang mati segera diganti.
  • Klon tanaman  untuk penyulaman harus sama.
  • Penyulaman dilakukan sampai unsur 2 tahun.
  • Penyulaman setelah itu dapat berkurang atau terlambat pertumbuhannya.

B. Pemotongan Tunas Palsu.
Tunas palsu dibuang selama 2 bulan pertama dengan rotasi 1 kali 2 minggu, sedangkan tunas liar dibuang sampai tanaman mencapai ketinggian 1,80 meter.




C. Merangsang Percabangan.
Bila tanaman sudah berumur 2 – 3 tahun dengan tinggi berkisar 3,5 meter belum mempunyai cabang perlu diadakan perangsangan dengan cara :
  • Pengeringan batang (ring out)
  • Pembungkusan pucuk daun (leaf felding)
  • Penanggalan (tapping)

D. Pemupukan
Pemupukan dilakukan 2 kali setahun yaitu menjelang musim hujan dan akhir musim kemarau, sebelumnya tanaman dibersihkan dulu dari rerumputan dibuat larikan melingkar selama – 10 Cm. Pemupukan pertama kurang lebih 10 Cm dari pohon dan semakin besar disesuaikan dengan lingkaran tajuk.

4. Masa Panen Dan Pasca Panen.
Ini merupakan tahap terakhir menanam karet. Karet ini cara memanennya yaitu dengan cara di sadap. untuk tanda-tanda tanaman karet siap untuk disadap yaitu Umur tanaman rata-rata 6 tahun atau 55% dari areal 1 hektar sudah mencapai lingkar batang 45 Cm sampai dengan 50 Cm. Disadap berselang 1 hari atau 2 hari setengah lingkar batang. Hasil karet dari sadapan disebut juga sebagai lateks. Nah untuk penglahan lateks tersebut sebagai berikut ;
  • Standar karet kebun diturunkan dari rata-rata 32% menjadi 16% dengan jalan memberi air yang bening atau yang bersih.
  • Kemudian dicampur dengancuka/setiap 1 Kg karet kering 350 s/d 375 Cc larutan 1% cuka.
  • Dibiarkan sampai beku.
  • Kemudian digiling dalam gilingan polos dan kembang, kemudian direndam rata-rata 60 menit.
  • Disadap selama 1 minggu.